Kus.. sudah termenung di teras rumah. Rona wajahnya nanar dengan kesedihan. Aroma pasrah begitu ikhlas terlukis begitu kuat. Ada kekalutan dalam dirinya, tak bisa disembunyikan. Sambil merangkum kaki, duduk memeluk lutut ia menelan suasana pagi dengan sedikit rasa, hambar dan getir. Entah kenapa, pemandangan terlihat olehnya begitu ungu dan kelabu. Tatapannya jauh menembus gerimis. Di pangkuannya, si kecil, anaknya duduk dengan agung, berumur sekitar 3 tahunan.
Semua orang tahu akan hal ini. Sejak istrinya pergi ke Abu Dhabi, Kus sering termenung. Hidupnya terlihat diselimuti kepayahan meskipun pasrah. Simpati orang-orang begitu besar kepadanya, meskipun hanya ucapan belaka. Kus menerimanya dengan telinga.
Satu sore di musin kemarau, ketika debu-debu terpingkal diterjang angin. Istrinya telah memberi keputusan yang pasti.
“ Ini jalan terbaik bagi kita. Kang!” Kata Istrinya sambil membereskan pakaian, lalu memasukkannya ke dalam koper besar. Entah mengapa, istrinya hari itu begitu cantik dan anggun, ia ingin menciumi pipinya yang tersiram cahaya kuning matahari sore.
Kus tidak berkata. Ia menyadari, sampai saat ini belum bisa memberi kebahagian kepada istrinya. Setiap manusia membutuhkan kebahagian yang besar, lahir dan bathin, dan istrinya adalah manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar