Google

Sabtu, 05 April 2008

Sarangan dan Perbatasan Di-Sweeping


Antisipasi Masuknya Jaringan Teroris di Wilayah Magetan
MAGETAN - Jajaran Polres Magetan semakin ketat dalam melakukan pengawasan, utamanya di kawasan objek pariwisata Sarangan dan perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah. Dimungkinkan, Sarangan dijadikan tempat persembunyian para teroris. Dugaan ini muncul setelah satu dari lima tersangka teroris di Sleman, Jateng yang beralamat asal Magetan, berhasil tertangkap.

"Kita sudah menerima informasi teroris asal Magetan itu, tapi kami belum tahu kepastian apakah dia benar-benar warga Magetan atau hanya punya identitasnya saja. Namun yang pasti kita terus optimalkan pengawasan," kata Kapolres AKBP Bambang Sunarwibowo kemarin.

Diungkapkan, penanganan terhadap seorang teroris tersebut dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri. Sedang pihaknya hanya bertugas membantu pengawasan tentang kemungkinan adanya jaringan teroris yang masuk atau bersembunyi di Magetan. "Pantauan dan pengawasan terus kita lakukan, dan hingga kondisinya aman," jelasnya.

Menurut kapolres, ada dua lokasi yang menjadi perhatian khusus pihaknya. Yakni, daerah kawasan wisata Sarangan dan daerah perbatasan. Pasalnya, daerah-daerah tersebut sangat rawan dijadikan pintu masuk ataupun persembunyian para jaringan teroris. "Di tempat wisata itu kan bebas untuk keluar masuk orang asing, jadi bisa saja mereka bersembunyi di sana. Makanya pengawasan dan pemantauan kita fokuskan di sana," ujarnya.

Selain Sarangan, pihaknya juga mengintensifkan pengawasan dan pemantauan di lima daerah perbatasan. Yakni, di Cemoro Sewu yang berbatasan dengan Karanganyar (Jawa Tengah), di Baluk Karangrejo, yang berbatasan dengan Ngawi, lalu Maospati yang berbatasan dengan Madiun, dan Parang yang berbatasan dengan Ponorogo. Serta di Genilangit yang berbatasan dengan Wonogiri. "Untuk daerah perbatasan, selalu kita gelar operasi intensif. Yakni, memeriksa kendaraan luar kota yang masuk dan mengenali identitas pengemudinya. Sedang di Sarangan, kita sudah melakukan operasi sebanyak dua kali," ungkapnya.

Soal keberadaan pondok pesantren di Magetan, Bambang mengaku tidak melakukan perlakukan khusus. Pasalnya, hingga saat ini telah terjalin komunikasi yang baik dan intensif dengan pengurus pondok. "Mereka baik pada kita dan saya percaya dengan mereka. Jadi tidak perlu dicurigai," tandasnya.

Seperti diberitakan, dari lima tersangka teroris yang diamankan Densus 88 Mabes Polri di Sleman dan Surabaya, salah satunya berlamatkan di Magetan. Yakni, Amir Ahmadi alias Ahmad, 34. Ahmad diamankan Densus 88 di Sleman bersama empat rekannya.

Yakni, Sutarjo alias Akhyas alias Abi Isa, 33 beralamatkan Sukoharjo, Karim alias Sikas Bin Waryo, 37, yang beralamatkan Sukoharjo, dan Edi alias Edi alias Suparman, yang juga beralamatkan di Sukoharjo.

Tidak ada komentar: